April 06, 2021

Fajar


Jika disuruh memilih,,,Fajar atau senja, tentu aku memilih fajar. Kau tahu alasanku memilihnya ? 

Fajar itu menjemput sang mentari. Dengan anggunnya sang mentari terbit dan menghangatkan langit. Menyinari sisa embun pagi. Mengisyaratkan pada seluruh isi semesta untuk segera memulai cerita.

Terbitnya sang mentari, pertanda dimulainya sebuah hari yang baru. Segala canda tawa anak manusia tak akan dapat tersembunyikan disana.

Indah bukan,,,??

Dan senja,,,
Bukan aku benci sih, aku sedikit engan memang. Dengan kehadirannya mengisyaratkan berakhirnya sebuah cerita. Menyisakan sunyi, hanya kelip lampu kecil yang seakan tak berarti. Tetap saja kegelapan pemenangnya. Membiarkannya menjadi penghantar tidur atau pengisi sebuah mimpi. Entahlah,,,



April 05, 2021

Emansipasi Wanita


Setiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini yang merupakan simbol kebangkitan perempuan. ... Sejarah Hari Kartini berawal dari lahirnya RA Kartini atau Raden Ajeng Kartini di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Kartini merupakan putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang bangsawan dan bupati Jepara.

Sosok Raden Ajeng Kartini tampak tidak lepas menjadi topik pembicaraan seputar emansipasi wanita. Usaha Kartini dalam memperjuangkan hak wanita untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dan diberikan kesempatan yang sama untuk menerapkan ilmu yang dimiliki agar tidak direndahkan derajatnya menjadikan Kartini dikenal sebagai tokoh penggerak emansipasi wanita.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, emasipasi adalah pembebasan dari perbudakan atau persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria. Selanjutnya emansipasi wanita memiliki arti proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju.

Salah satu wujud sederhana dari emansipasi diera modern ini yakni ketika wanita tidak menggantungkan hidupnya kepada siapapun dan belajar lebih mandiri. Sedangkan di dalam lingkup sehari-hari, emansipasi dapat dilakukan dimulai dari hal-hal yang paling kecil, misalnya dengan menjadi agen perubahan dalam komunitas kecil, seperti di dalam kelompok pertemanan atau di dalam rumah. Peran agen perubahan untuk mempengaruhi orang untuk melakukan hal-hal yang baik jauh lebih menantang daripada melakukan kegiatan besar yang kurang diminati. Oleh karena itu, dengan melakukan hal yang sederhana dan membawa kebaikan dan manfaat bagi lingkungan sekitar sudah merupakan bentuk emansipasi. Wujud emansipasi lainnya juga bisa dilakukan dengan berbuat baik kepada orang lain dan menghargai apa yang dimiliki sebagai bentuk rasa syukur kepada anugerah yang diberikan Tuhan. 

Emansipasi wanita tidak semata-mata berfokus pada kesetaraan antara hak laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam beragam bidang. Makna sebenarnya dari emansipasi wanita yaitu tentang bagaimana wanita dapat berkembang dan maju dari waktu ke waktu tanpa menghilangkan jati dirinya. Dengan memahami makna emansipasi wanita seutuhnya, wanita turut serta memberikan emansipasi bagi masyarakat dan negara.

Mendidik generasi rabani juga adalah peran wanita modern yang tidak kalah istimewa. Mengapa istimewa? Tentu, karena jaminannya adalah surga. Wanita adalah makhluk multi tasking. Jangan ragukan kemampuan mereka. Anak dalam pengasuhannya namun bisa menjadi wanita kantoran, seketika bisa melakukan fungsi sebagai orang tua dan sebagai guru di tempat kerjanya, mampu melakukan dua sampai tiga pekerjaan dengan waktu bersamaan. Mengapa harus menyetarakan perannya dengan laki – laki, padahal peran wanita sesungguhnya sama, bahkan bisa lebih dari laki – laki. Bekerja dari terbit matahari hingga terbenamnya mata suami, apakah masih kurang peran? Wanita istimewa dan tak ada yang bisa membantah itu. Karena keistimewaan itu, bahkan Allah memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada wanita seperti dalam Quran surah An-Nisa: 19, yang artinya, “Dan perlakukanlah mereka secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan.”

Kedudukan wanita dalam agama Islam sangatlah diatur, baik kedudukan sebagai anak, kedudukan sebagai istri, kedudukannya sebagai ibu, kedudukan dalam menentukan pilihan, serta kedudukannya sebagai individu.

Sebagai seorang anak, Islam telah mengatur dengan firman Allah yang artinya, “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak – anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki – laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki – laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Quran surah Asy-Syura: 49-50). 

Kedudukan wanita sebagai istri telah diatur dalam Islam, yakni Allah memerintahkan kepada para suami untuk memperlakukan istrinya dengan baik seperti dijelaskan dalam surah An-Nisa ayat 19, “Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.”

Kedudukan wanita sebagai ibu telah diatur dalam hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa kedudukan ibu lebih mulia daripada ayahnya. Dalam sebuah hadis, seorang sahabat bertanya tentang orang yang paling berhak untuk mendapatkan perlakuan baik, “Wahai Rasulullah siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya? Rasulullah menjawab, ‘Ibumu’. Kemudian siapa? ‘Ibumu’, jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, kemudian siapa? ‘Ibumu’. Kemudian siapa, tanya orang itu lagi, ‘kemudian ayahmu’, jawab beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam menentukan pilihan, wanita tidak didiskriminasi oleh agama. Hal tersebut dibuktikan dengan hadis rasulullah SAW dari Aisyah, Ia berkata, “Saya bertanya kepada Nabi tentang seorang gadis yang dinikahkan oleh walinya, apakah harus dimintai izinnya atau tidak? Beliau menjawab, ‘Ya harus dimintai izinnya’. Aisyah berkata, saya lantas berkata kepada beliau, ‘sesungguhnya seorang gadis itu pemalu’. Beliau menjawab, karena itulah izinnya adalah ketika ia diam.” Ibnu Abbas menceritakan bahwa Nabi bersabda, “Seorang janda lebih berhak atas dirinya dari pada walinya. Seorang gadis itu dimintai izinnya, Tanda persetujuannya adalah dengan diam.”

Sedangkan kedudukan wanita sebagai individu telah diatur dalam Quran surah An-Nisa: 7 yang artinya, “Bagi laki – laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu, bapak, dan kerabatnya; dan bagi wanita ada hak bagian dari harta peninggalan ibu, bapak, dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” Seorang wanita juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu. Mereka dapat menimba ilmu sedalam – dalamnya sebagaimana kaum lelaki. Hal ini dikarenakan seorang wanita akan menjadi ibu bagi anak – anaknya dan mereka memiliki kewajiban untuk mendidik anaknya kelak.

Dari paparan  di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa wanita itu istimewa. Peran dan kedudukannya di mata manusia dan di mata Islam sangatlah istimewa. Wanita diistimewakan sejak kelahiran hingga kematian, dicintai sejak menjadi anak hingga menjadi ibu, disayangi sejak menjadi pribadi hingga menjadi istri, tanggung jawab penuh ditimpakan kepada ayahnya lalu dilimpahkan kepada suaminya, dimuliakan oleh anak – anaknya, dan dikasihi oleh saudara dan teman – temannya, serta oleh Allah swt dibukakan pintu surga dari arah mana saja yang disukainya. Tidak perlu menarasikan kesetaraan wanita dengan laki – laki harus sama persis, sebab menempatkan peran wanita pada fitrahnya adalah emansipasi. 

(Dari berbagai sumber )


April 04, 2021

Dangau Tua


Dangau reyot di pinggir sawah mengernyit ketika angin sore berhembus kencang menerpanya. Atap jerami terburai tak kuasa menahan hembusannya yang semakin kencang. Tiang penyangga yang tak tegak rela menahan beban atapnya walau tiang itu tertanam ditanah dan terendam air yang keruh.

Dangau renta itulah yang setiap hari melindungi Bapak saat Beliau harus menunggu tanaman padi dari serangan burung-burung manyar. Terkadang malam hari Bapak  juga menyambangi sawah untuk mengusir hama tikus yang tiada henti menggerogoti tanaman padi yang sudah mulai berisi.

Rembulan malam bersinar redup terhalang oleh gumpalan mendung mengelayut tepat diatas atap rumah. Bapak dengan keluh kesahnya bersandar pada kursi  yang mulai reyot. Tatapan matanya menerawang  membayangkan  hamparan padi yang menari gemulai oleh tiupan angin malam. Ia melihat  bulir-bulir padi yang masih belum bisa dipastikan hasilnya. Bapak lebih beruntung karena sawah tetangga musim tanam ini tak membuahkan hasil apa-apa. Serangan hama wereng dan keong mas membuat tanaman padi puso semua. Bapak sangat bersyukur kepada Tuhan karena hingga kini padi kami masih bisa memberikan harapan kehidupan ke depan.

Musim tanam tahun sebelumnya sawah Bapak tak menghasilkan apa-apa. Bapak terlambat mencegah serangan hama yang luar biasa. Bapak beserta petani yang lain hanya bisa gigit jari karena tak membuahkan hasil sama sekali. Gagal panen yang mereka alami menyebabkan program-program yang telah mereka buat gagal semuanya.

Rasa lelah dan kantuk tak kuasa Bapak tahan. Sekali menguap tubuh legam itu pun rebah lalu mendengkur di atas ranjang, Bapak  benar-nenar kelelahan.

Fajar muncul memerah jingga di ufuk timur. Ia mengawal terbitnya matahari untuk melaksanakan tugasnya menyinari jagad raya. Beriring siulan burung-burung pengantar pagi, Bapak segera berangkat ke sawah untuk memunguti keong mas yang menggerogoti batang tanaman padi. Dangau tua menanti Bapak menyinggahi dirinya yang lapuk. Bapak meletakkan barang bawaan dan bekal makan siangnya di atas dangau tua.

Hanya memakai celana pendek dan kaos lengan panjang yang sejak kemarin disangkutkan di paku dangau tua, Bapak segera turun ke sawah memunguti satu persatu keong mas yang masih menempel di batang tanaman padi. Dalam sekejap, Bapak sudah mendapatkan hama tanaman itu satu karung.

Napas terengah karena mangangkat beban sekarung dari sawah hingga dangau tua.  Bapak lalu meraih sebotol air minum putih. Dua, tiga teguk air mengalir melalui tenggorokannya yang kering. Sekejap energi yang sempat terkuras kini pulih kembali. Bapak pun turun lagi ke sawah mengambili keong emas yang masih banyak menempel di batang-batang tanaman padi.

“Paakk…! Bapaakkkk….!” Suaraku melantun keras dari kejauhan. Bapak menengok sebentar ke arahku. Namaku Yusni anak bungsu bapak yang baru saja tamat SMA.

“Kok, sendiri ? Emak mana” tanya  Bapak sambil menyeka peluh di wajahnya.

“Aku diterima kuliah di Universitas Negeri dan hari ini pembayaran terakhir.

Bapak tidak bisa berkutik mendengarkan penjelasan dari aku yang sebenarnya sudah diduganya. Aku termasuk siswa berprestasi disekolahku.

“Seminggu lagi bagaimana?” tanya Bapak. Sambil memikirkan cara mendapatkan uang dalam waktu singkat..

“Tidak tahu, Pak!” jawabku dengan muka murung.

“Nasib….nasib!” keluh Bapak.

“Sabar, Pak. Aku tidak apa-apa kok Pak kalau terpaksa tidak kuliah,”

“Tidak, Nak. Kamu harus tetap kuliah,” tegas Bapak.

“Tapi, Pak..!”

“Tak usah kau pikirkan itu semua. Itu urusan Bapak. Tugas kamu hanya belajar.”

Pekerjaan di sawah yang belum selesai terpaksa ditunda demi masa depanku. Bapak tidak mau hanya gara-gara belum bisa bayar, aku batal kuliah. Atas kebaikan Induk Semang, akhirnya Bapak bisa membayar biaya kuliahku. Bapak  bangga karena aku diterima  di universitas Negeri dan mendapatkan beasiswa. Bapak merasa lega karena aku bisa melanjutkan pendidikanku dan Bapak pun bisa bekerja lagi ke sawah.

Dangau tua yang setia menanti Bapak tetap berdiri walau diterpa angin kencang musim ini. Ia kangen kepada Bapak  karena dua hari tidak disambangi karena Bapak sibuk mengurusi pendidikanku. Dangau tua melambaikan atap jeraminya kepada Bapak yang tergopoh-gopoh mendekatinya. Dangau itu merasa bersyukur disinggahi orang seperti Bapak.

Bapak menyingsingkan lengan  kaosnya lalu turun ke sawah. Betapa kagetnya ketika Bapak melihat keong-keong itu melumat tanaman padi. Bapak melihat dengan perasaan sedih batang-batang padi yang bertumbangan di permukaan air sawah. Tangannya melemas seakan tak berdaya ketika memunguti batang-batang padi itu untuk dikumpulkan lalu di buang ke pematang dekat dangau tua.

Hamparan sawah Bapak yang asalnya hijau kini hanya terlihat hamparan air yang beriak diterpa tiupan angin. Di balik riak-riak kecil di permukaan air sawah itu terlukis wajah sedih Bapak. Bapak tak rela jika aku  yang sudah lulus SMA tak bisa melanjutkan kuliah. Bapak hanya pasrah menunggu nasib baik menghampiri sehingga perekonomian keluarga bangkit demi pendidikan dan masa depanku.

Bapak,,,

Seperti sinar mentari 

Kasih yang kau suguhkan 

Sungguh tak mampu aku membalasnya 

Aku sayang Bapak 

Sungguh kami menyayangimu,,,



April 03, 2021

Cantik

Cantik itu,,,
Bukan seberapa tebal bedak di wajahmu. Merah dibibirmu. Mukamu yang bersih. Yang tanpa jerawat.

Bahkan,,,
Bukan seberapa mahal perawatan tubuhmu.Tapi kecantikan itu tampilan sederhana dengan tak mengenakan riasan yang berlebihan. Namun tetap terhormat.Tak peduli walau dirayu dengan tampilan modern yang seronok saat ini.

Tetap tampil cantiklah. Sesuai yang kamu inginkan. Bukan yang mereka inginkan. Belajar untuk menghargai diri sendiri. Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Karena setiap kita lahir dengan pesona yang berbeda. Jadilah dirimu sendiri,,,

#AprilChallengeWriting hari ke-3 Hurup C


Aksaraku

Ini sebenarnya sudah jam tidur, tapi ada yang menghantuiku. Sajak-sajak liar ini pun mulai menggerogotiku, meminta jariku untuk menekan tombol-tombol aksara yang nampak didepanku. Sungguh setelah hari ini aku tidak akan tidur senyanyak kemarin malam atau bermimpi lebih indah. Aku penasaran kenapa kebahagiaan dan kekecewaan datang berurutan dan menggerogoti hatiku. Belakangan aku sadar, ini ujian yang berat.

Diantara ujian yang berat, sahabat adalah orang pertama yang akan berdiri digaris depan. Berjaga agar kau melangkah mundur tidak terlalu jauh, agar ketika kau jatuh tidak terlalu dalam, agar saat kau memutuskan maju ada yang dengan setulus hati mengangguk menyetujui keputusanmu. Belakangan aku sadar drama yang telah lama diputar dalam kehidupanku.  Entah aku yang terlalu sensitif atau aku yang terlalu bermain perasaan. Hari ini diujian terberat dalam kehidupan sebagai seseorang yang ingin berkarya, ketika aku mulai terbuka dan berharap mendapat dukungan mereka, aku jatuh. Mungkin tidak terlalu dalam, tapi cukup terasa. Ketika satu buah pencapaian oleh diriku membuatku bangga, merekalah yang pertama tertawa akan kebanggaanku. Entah, apa yang mereka maksud dengan itu, tapi aku mulai merasa drama kami mulai kentara terlihat.

Pada akhirnya aku sadar, aku hanya bisa menyatu dengan mereka yang punya satu mimpi. Mimpi yang sama, seperti bagaimana cara terbang lebih tinggi dihari esok atau cara mekar dengan kelopak yang indah dimusim semi. Mungkin bisa juga tentang cara kita mengikuti arus sungai, pada akhirnya kita akan menemui percabangan.

Percayalah, kita tak harus memaksakan ini. Jangan tinggalkan nada-nada merayu diujung malamku. Cukup kita ucapkan selamat pagi, menghantar masing-masing waktu yang kita nikmati. Aku dengan waktuku, kamu dengan egomu.

April 01, 2021

Baiduri

Baiduri,,,
Indah pesona cahaya jumantara
Senyum menggoda bagai bianglala.
Hati pun terpana pada arjuna.
Dan memiliki selamanya bukan maya.

Baiduri ,,,
cinta mengalir tanpa henti.
Airmata kerinduan nyanyi lagu perih.
Bilakah menyala  asmara ini.
Bercahaya indah dilingkar sanubari.

Baiduri,,,
Dua purnama kau ku nanti.
Tak terdengar kabar lewat mamiri.
Apakah rasa tak larut sedih.
Malah berakhir sampai di sini.

Baiduri,,,
Walau tanpa sedu sedan menghampiri.
Cukuplah sudah kujaga hati.
Saatnya ku lepas sangkar hati.
Agar tak lagi meninggalkan duri.

Baiduri,,,
Tak lagi tersisa nama di hati.

Maret 29, 2021

Nisfu Sya'ban


Waktu bergulir tak terhenti
Seolah tak akan ada kesempatan lagi
Hanya orang yang bijak dan hati-hati
Bisa manfaatkan waktu yang tak ada kata kembali.

Menghitung detik yang tersisa
Mengulang rekaman panjang perjalanan 
Meski dengan napas bersahaja
Mengukir kebermanfaat buat pertemanan.

Nisfu Sya'ban sabun perontok noda-noda
Persiapkan kekuatan moda-moda jiwa
Tuk berkendara arungi asa ramadhan
Larungkan dosa-dosa  ringanlah beban.

Nisfu Sya'ban , sebelum buku catatan amal disetorkan, saya pribadi  mohon maaf lahir & bathin,

Maaf sekiranya pernah menyakiti,
Maaf sekiranya pernah menghina,
Maaf sekiranya pernah kasar,
Maaf sekiranya pernah membohongi,
Maaf sekiranya pernah menyinggung perasaan,
Maaf sekiranya pernah mengumpat yang sekiranya bisa menjadikan hati sahabat semua tidak tenang dan sakit hati yang kadang tidak terkirakan.. 

Baik disengaja maupun tidak disengaja
Baik yang terang-terangan maupun yang disembunyikan.

Sesungguhnya yang buruk datang dari diri sendiri dan yang baik senantiasa datangnya dari Allah SWT.. 


Jangan Biarkan Ibu Berkata Terserah

Ibuku tidak tidur. Dia merasa lelah. Dia mudah tersinggung, pemarah, dan pahit. Dia selalu sakit sampai suatu hari, tiba-tiba di...