Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

April 20, 2021

Sempurna Menanggung Luka


Andai rindu bersayap, takkanku biarkan ia menetap sebab menanti. Aku tahu,,,menapis rasa tak pernah semudah tertawa dalam sandiwara. Memaksa hati untuk tak lagi menyebut nama. Yang tak pernah melebur dalam deruan angin senja. Sekalipun swastamita hendak membawanya.

Hai.. Apa kabar? -aahh  tunggu dulu. Kau tak perlu menjawabnya. Aku sudah lebih dulu tau jawabannya, dari raut wajahmu. Kelihatannya kau baik-baik saja, bahkan lebih baik rasanya dibanding waktu dulu kita bersama. Lebih bahagia sepertinya. Tanpa aku, kamu tetap bahagia. Berbanding terbalik dengan aku yang harus memungut – mungut retakan hati dari kepatahhatian hebat waktu itu. Aku benar benar kalap waktu itu. Bahkan lupa bagaimana langit sore pernah menggembirakan kita berdua.

Kala itu, rona jingga menggelap perlahan. Menghilang diantara ruang dan waktu. Aku bertanya padamu ‘"kau tau bagaimana cara agar kita benar benar bisa memiliki senja ? " Kau menggeleng. Lantas aku mengeluarkan ponsel, menekan gambar kamera lalu memotret matahari yang tinggal separuh, tapi warna khasnya tetap ada. Kau terdiam, lalu bertanya kembali ‘untuk apa Nung? Aku menoleh. Menatapmu. Menjawab yakin ‘agar kita bisa memiliki senja -dengan memotret lalu menyimpannya. Memilikinya selamanya. Kemudian Sebuah senyum terlahir. Sungguh manis.  Lalu kau pegang erat tanganku.

Setelah momen mesra itu. Berbulan – bulan kemudian, Dirimu berubah. Seratus delapan puluh derajat. Teleponku tidak diangkat, sms pun tidak di balas. Menghilang entah kemana. Puncaknya, ketika aku menghampiri langsung ke rumah mu. Ketika aku mengetuk pintu, aku  langsung dibukakan oleh wajah paling jutek semenjak pertama kali aku mengenalmu. Raut muka yang tak kukenali. Terlihat stres tanpa aku tahu penyebabnya. Kau menjelma penyihir tua yang membuat takut seluruh manusia. Aku bertanya ada apa dengamu, Sutan Syahri Nugraha. Kekasihku?. Kau cepat menjawab ‘Kita tidak usah berhubungan lagi Nung. Aku akan menikah 2 minggu lagi. Dengan wanita yang sudah lama dijodohkan denganku.

Kalimat pahit yang membuat aku marah sekaligus merasakan sakit yang sangat menohok di dada. Perjodohan apa? Kau bahkan tidak pernah bilang sebelumnya.

Kau hanya bilang ‘sudah Nung, pergilah’ Kemudian pintu rumahmu tertutup, juga pintu hatimu. Sangat rapat, untuk aku Nunung Komalasari. Gadis yang pernah kau bisiki kalimat romantis di telinganya. 

Hari itu, aku merasa jatuh di sebuah lubang tanpa cahaya. Jatuh dalam gelapnya. Hancur dalam reruntuhnya. Pada hari itu, resmi sudah hatiku mati. Bersemayam pada bagian paling dalam. Melepuh perih dari rasa yang paling langka, tentang kesakitan.

Kemudian, selembar undangan hadir di teras rumahku. Tepat saat matahari mulai terbenam. Tertera namamu dan nama gadis  itu, Ai Setiawati. Gadis antah berantah yang sebentar lagi akan menjadi istrimu. Iya, Istrimu.  Dirinya. Bukan aku. Janji itu, hilang begitu saja. Hilang bersama rasamu padaku. 

Musik mengalun. Sebuah nada penuh elegi tedengar sayup. Di momen bahagiamu itu. Persis pada tanggal pernikahanmu. Hari pertama kau bertindak sebagai suami wanita antah berantah itu. Juga menjadi hari terakhir aku melihatmu. Karena saat ini aku sadar, hati ini sudah bukan lagi tempat seperti apa yang pernah kau sampaikan. Dan senja adalah waktu yang paling tepat menguburnya. Sempurna menanggung luka.



April 14, 2021

Pelopor Emansipasi


Sesosok perempuan lahir menatap dunia. Berparas ayu indah mempesona. Akal budi nan elok menyentuh raga. Seakan langkah yang tak terhenti meraih asa.

Iya,,,
Dialah sang putri Bangsa. Yang tak hanya berkelana menerima apa adanya. Namun juga seorang pejuang bangsa demi kaum hawa yang sejahtera.

Tak peduli akan jiwa yang lemah. Tetap saja dengan semangat yang berlimpah. Tak hanya terdiam dalam amarah. Karena mereka telah memandang rendah. Hasrat kebebasan dalam melangkah menjadi tujuan yang terarah.

Wahai Ibu kartini,,,
Engkau pelopor gerakan emansipasi wanita. Berbekal tekat pertaruhkan nyawa. Demi harkat dan martabat para kaum wanita.

Dengan gigihnya engkau membela kaum wanita. Dengan hak-hak yang semestinya. Karena itu, Tuhan telah mengutusmu untuk kaum wanita yang tebelenggu.

Karenamu,,,
Kini kami bisa mengenyam pendidikan tinggi. Menjadi seorang wanita yang pemberani. Berbudi pekerti dan berjiwa insani.

Kami berjanji wahai Kartini,,,
Untuk melanjutkan perjuangan mu di Negeri ini. Dengan menjadi tunas Agama, Nusa dan Bangsa. Terus berkarya meraih cita-cita.

Terima kasih Ibu Kartini,,,
Perjuangan mu takkan sia-sia untuk negeri ini. Meskipun ragamu telah dialam suci. Namun engkau akan selalu terpatri di dalam sanubari.



#April9AISEIWritingChallenge
#InspirasiKartini
#KurikulumNgumpet

April 13, 2021

Nyekar


Jam menunjukkan arah pukul empat sore. Pandangan Bima tertuju pada sekeliling makam. Hari ini suasana makam berbeda dari hari biasanya, bersih, rapi, dan penuh taburan bunga-bunga. Bima kembali menatap makam ibunya.“Apakah hanya makammu Bu yang tanpa taburan bunga?” Bima bertanya dalam hati.

Bima mengelus-elus nisan kemudian terdiam. Terjadi pergolakan dalam hatinya. Ketidakmampuannya untuk berbakti membuat lemas sekujur badannya.

Bukankah hari ini nyekar? Aku harus wujudkan baktiku padamu. Setidaknya aku harus memberi hadiah sebelum hari raya. Tetapi aku tidak punya uang untuk membeli bunga. Begitu teganya aku hanya makammu yang tanpa taburan bunga dan wangi air bunga. Maafkan aku Bu, aku anak yang tidak berbakti. Jangan menangis di sana melihat ketidakmampuanku. Air mata Bima luber karena tak dapat ia tampung lagi. 

Bima beranjak pulang ke rumah dengan raut muka yang ditekuk. Ia berjalan cepat, seakan-akan terburu mengambil sesuatu. Setelah sampai di rumah mata Bima tertuju pada toples yang berada di atas rak piring yang terbuat dari bilah bambu. Ia ambil kemudian ia isi dengan air. Setelah itu ia ke kamar bapaknya mengambil botol  kecil di bawah bantal. Bapaknya masih khusyuk salat Ashar.

Bima lari menuju ke makam lagi. Setelah sampai, ia melihat sekeliling. Sepi, ia punguti bunga-bunga yang tercecer di jalanan. Bunga yang ia kumpulkan cukup banyak. Ia langkahkan kakinya ke makam ibunya. Bima menaburkan bunga-bunga yang ia kumpulkan lalu menyiram makam dengan air dalam toples tadi.

“Dapat dari mana bunga-bunga itu Bim ?”Tanya Bapak yang datang tiba-tiba sehingga membuat Bima  kaget.

“A…nu Pak..., bima…,”jawab Bima tertahan. “Kau mencuri Bim ? Bapak tidak pernah mengajarkanmu mencuri. Kenapa kau melakukan hal ini ? Apa ini yang kau baktikan pada ibumu Bima ?” Bentak Bapak mendakwa Bima.

Bima kembali meneteskan air mata. Dakwaan bapaknya sangat menusuk hati. Bima hanya ingin memberikan sesuatu untuk almarhum ibunya. Tapi apa daya ia tak punya apa-apa.

“Bima tidak mencuri Pak, Bima mungut bunga di jalan,” jelas Bima setelah mengumpulkan keberanian untuk menjawab.

“Duh-duh Nak, sudahlah jangan menangis. Tidak baik menangis di makam,” ucap Bapak lalu merangkul kemudian memeluk Bima. “Ayo ngaji lagi!”

“Iya Pak,” kata Bima kemudian menghapus air matanya.

“Ini toples isinya air apa Bima ?” Tanya Bapak penasaran.

“Air yang Bima campur dengan parfum Bapak.”

“Bima ?”


#Alfatiha untuk Alm Amak,,,


April 11, 2021

Krim Awet Muda


Puluhan mata wanita tidak berkedip, saat Nunung mengoleskan krim  merah muda ke wajah wanita yang menurut penafsiranku berusia sekitar 60 tahun. Seketika itu, wajah wanita yang banyak kerutan di dahi dan sekitar mata berubah mulus. Alhasil, gemuruh tepuk tangan sambil berdiri langsung menggema di aula itu. 

"Kamu pasti ingin bisa terlihat awet muda kan ? Hal itu memang jadi dambaan kaum hawa, ya. Apalagi kalau sudah memasuki usia dewasa dimana kondisi kulit mulai mengalami perubahan seperti kulit terasa kendur atau adanya garis-garis halus yang berpotensi menjadi kerutan. Maka dari sekarang, kalian  bisa coba untuk rajin memakai Plastkrim. Nah,  ini adalah  krim wajah yang ternyata bisa bikin kamu awet muda!"

"New plastkrim ready,,Dengan membeli produk plastkrim senilai 500 ribu, kamu akan dapatkan pouch cantik untuk tempat kosmetikmu. Tunggu apa lagi, yuk, gercep untuk dapatkan pouch unik dan eksklusif untukmu.”
“Beli produk plastkrim yang satu ini, kamu nggak hanya bisa tambah menarik. Tapi, bisa juga tambah percaya diri". 

"Plastkrim di formulasikan khusus dengan bahan aktif yang dapat mencerahkan kulit wajah secara merata dengan pemakaian secara teratur kulit menjadi tampak lebih awet muda, bersih,cerah serta terasa halus dan lembut".

"Cara  penggunaannya sangat gampang, oleskan Plastkrim secara tipis dan merata pada kulit wajah yang telah di bersihkan , pada malam hari sebelum tidur"

Begitulah, Nunung sangat piawai mempromosikan krim kecantikan.

Plastkrim, nama krim yang diklaim Nunung sebagai penemunya setelah dua tahun mengadakan riset. Nunung adalah sahabat mayaku yang selama ini belum pernah bertemu. Ia meminta menginap di tempatku selama 4 hari untuk mempromosikan krim kecantikan.

Malam ini sambil menunggu Nunung  pulang, aku dikagetkan ketukan pintu bertubi- tubi. Ternyata Pak Iroen, pemilik warung sebelah rumah yang istrinya tiga hari lalu melahirkan. Dengan ekspresi cemas, ia memintaku menemani istrinya karena akan ke rumah Pak RT untuk melaporkan sesuatu.

Bu Lek Ambu terisak-isak sambil menggendong bayinya. 
"Sungguh terkutuk orang yang mencuri ari- Ari bayi ku!" katanya gusar.

Pikiranku langsung teringat kebiasaan masyarakat Jawa yang selalu mengubur ari-ari setelah bayi lahir dan meletakkan lampu ublik untuk menandainya. Seketika itu, aku menengok ke luar jendela. Ada tanah yang baru digali.

Pukul 23.30, aku memutuskan pulang, tetapi tidak langsung menuju ke kamar karena mendengar suara mencurigakan di kamarku. Dari balik jendela, aku mengintip Nunung meremas-remas benda seperti usus di wadah plastik. Lalu memasukkan ke blender. Begitu cekatan ia menambahkan bubuk putih dan cairan minyak wangi. Setelah itu memblendernya. Dengan hati- hati dimasukkannya adonan tersebut ke botol- botol kecil berlabel. Degh! aku baru sadar ternyata Plastkrim itu terbuat dari plasenta atau ari-ari.

April 08, 2021

Hidup Hibuk Hirup

Siang ini mentari engan menjalankan tugasnya, ia memilih bersembunyi dibalik awan putih mengintip kehibukan Desa Maya, menyaksikan kerumunan orang yang sedang mengantri demi menentukan sebuah keputusan besar. Iya,,,hari ini Desa Maya sedang berpesta,,Pesta menentukan siapa pemimpin mereka dimasa yang akan datang. Tentu nya memilih sosok pemimpin yang bisa membawa kehidupan desa Maya menjadi lebih baik.

“Sudah menentukan pilihan?” tanya Brian, seorang pemuda paling tampan di Desa Maya, yang sedang menunggu gilirannya mencoblos pada teman di depannya.

“Kau tahu mengapa aku memakai kemeja?” tanya pria yang rupanya setahun lebih muda itu alih-alih menjawab pertanyaan yang diajukan.

Brian mengangguk. “Karena jika kau masuk ke ruang rapat  dan memakai kaus, kau akan diusir dari ruang rapat ,” jawabnya.

“Itu salah satunya,” balas pemuda itu. “Alasan lainnya adalah agar aku bisa menghitung kancing ketika memilih nanti,” lanjutnya.

“Indra! Wah, kau belum berubah ternyata. Bagaimana kau bisa memberikan nasib Desamu pada kancing kemeja? Bukankah mereka sudah kampanye? Seharusnya kau bisa menentukan pilihan dari kegiatan itu,” kata Brian yang tidak habis pikir dengan jawaban Indra tadi.

Lelaki berkemeja itu lalu membalikkan badan, menghadap Brian sambil menepuk pundaknya.

“Kau tahu istilah dari topeng yang dipakai oleh aktor, Persona !. Bisa saja saat berkampanye kemarin mereka hanya membual, hanya menyampaikan hal-hal manis agar mendapatkan banyak pendukung. Jadi, aku tidak bisa memercayai kalimat mereka,” kata Indra. Ia lantas kembali menghadap ke depan dan maju ketika barisan di depannya juga mulai bergerak.

Brian juga mengikuti langkah Indra, maju satu langkah dan diikuti teman-teman lain di belakangnya.

 “Memang itu gunanya kampanye. Mereka melakukan persuasi agar bisa terpilih dalam pemilihan ini,” ujarnya.

“Sayangnya, aku tidak mudah terpengaruh oleh kalimat-kalimat ajakan itu. Aku lebih memercayai diriku, memercayai kancing kemejaku.” Indra menyatukan kedua tangannya di depan dada lalu mengusap kancing-kancing bajunya.

“Cepat maju! Sudah giliran kita untuk memilih,” balas Brian.

Indra membuka lembar berisi foto calon Kepala Desa. Jujur saja, ia tidak begitu familiar dengan  keempat wajah yang tertera itu. Apakah mereka benar-benar mumpuni atau sekadar mencalonkan diri, Indra tidak yakin. Harus ia berikan ke siapa tanggung jawab untuk mengemudikan kapal di desa  ini?

Diliriknya Brian yang terlihat sudah melipat kertasnya kembali tanda ia sudah memilih. 

Padahal, tadi ia tidak mau ambil pusing, cukup menghitung kancing saja. Tetapi, rasanya ia memiliki tanggung jawab untuk kebaikan Desanya. Untungnya, ia segera mendapatkan pencerahan. “Baiklah! Aku sudah menentukan pilihan,” batin Indra sambil tersenyum tipis sembari mencoblos gambar salah satu calon kades.

Pengumuman hasil pemilihan Kades muncul selang beberapa jam setelah pencoblosan selesai. Wajah  Kades  baru bermunculan di unggahan status media sosial para pendukungnya. Tak ketinggalan pula ucapan selamat atas terpilihnya pemimpin yang baru bermunculan.

“Wah, aku tidak menduga jika Pak Santo yang menang. Padahal, melihat masa kampanye kemarin pendukung dari Pak Cipto nomor urut dua terlihat sangat banyak. ” komentar Indra sambil melihat papan perhitungan suara.

“Aku sudah menduganya,” jawab Brian.

“Bagaimana bisa?” tanya Indra penasaran.

“Bagaimana calon nomor satu bisa menang? Apakah ini takdir?” tanya Indra lagi.

“Mungkin karena mereka yang nyoblos pakai metode menghitung kancing. Jumlah kancing baju itu rata-rata enam butir dan biasanya ada orang yang menambahkan satu hitungan lagi untuk pilihannya,” jawab Brian.

Indra lalu memeriksa kancing bajunya, dan benar ada enam kancing termasuk kancing paling atas.

“Apakah ini memang kebiasaan orang-orang, menghitung kancing dan menambah satu angka lagi?” Indra masih terlihat mengagumi pemikiran Brian.

“Tidak, itu hanya bualanku saja. Mana aku tahu mengapa ia bisa menang. Sudahlah, jangan dipikirkan, toh mereka sudah terpilih,” kata Brian sambil menghirup udara demokrasi di Desa Maya.




April 06, 2021

Ghibah


"Yusni, sini gabung!"

Lagi, tiga orang tetanggaku itu berkumpul di geladeri  rumah salah satu dari mereka. Sebut saja mereka Nunung, Ai, dan Pipit. Tak ada hal lain yang mereka bicarakan selain keburukan orang. Tak terkecuali diriku.

"Maaf Mbak, saya mau masak dulu," tolakku halus. Jika ada jalan lain menuju warung, aku tak sudi melewati rumah mereka. Setelah ini, pasti aku yang  jadi objek utama bahan gunjingan. Tak jarang kudengar mereka mengolok-olokku sebagai perempuan rumahan yang kerjanya cuma di dapur.

"Masak terus apa gak capek? Sesekali gabung biar gak kuper!" celetuk Nunung.

"Makasih, Mbak."

Aku mempercepat langkah. Telingaku panas lama-lama mendengar ocehan tiga makhluk itu. Lebih baik aku menyalurkan hobi di dapur.

Aku mulai menyiapkan bahan untuk membuat Dimsum udang. Semua bahan mulai dari kulit pangsit, udang, dan lainnya sudah tertata rapi. Aku melihat semua bahan, sepertinya ada yang kurang. Ah, sial ! Telurnya lupa terbeli.

Dengan terpaksa aku harus kembali ke warung dan melewati tiga wanita berdaster yang masih asik tertawa dan sesekali berbisik. Kali ini, entah siapa yang mereka bicarakan.

"Kok, balik lagi, Yus ?"

"Ada yang ketinggalan, Mbak."

Aku mempercepat langkah untuk menghindari pertanyaan susulan.

Setelah kembali dari warung, tak lama Nunung datang ke rumah.

"Masak apa, sih?" Tanpa kupersilakan masuk, wanita buntal itu langsung menuju dapur.

"Masak dimsum. Mbak mau bantu?"

Dia tampak berpikir sejenak, lalu melihat-lihat isi dapur tanpa menjawab pertanyaanku.


Sore hari, kuantarkan Dimsum itu kepada tetangga. Ai sikurus dan dan Pipit siJangkung lagi-lagi duduk di geladeri  seperti biasa.

"Wah, lebih enak dari yang waktu itu," puji Ai si Kurus.

"Nunung  mana, ya. Ada makanan enak gini, kok gak kelihatan dari tadi siang," celoteh Pipit dengan mulut penuh Dimsum.

Aku kembali ke rumah dengan senyum terkembang. Kubuka lemari es, udang yang kubeli tadi masih utuh.

Ya ! Mereka benar-benar menikmatinya. Aku tersenyum puas.

April 04, 2021

Dangau Tua


Dangau reyot di pinggir sawah mengernyit ketika angin sore berhembus kencang menerpanya. Atap jerami terburai tak kuasa menahan hembusannya yang semakin kencang. Tiang penyangga yang tak tegak rela menahan beban atapnya walau tiang itu tertanam ditanah dan terendam air yang keruh.

Dangau renta itulah yang setiap hari melindungi Bapak saat Beliau harus menunggu tanaman padi dari serangan burung-burung manyar. Terkadang malam hari Bapak  juga menyambangi sawah untuk mengusir hama tikus yang tiada henti menggerogoti tanaman padi yang sudah mulai berisi.

Rembulan malam bersinar redup terhalang oleh gumpalan mendung mengelayut tepat diatas atap rumah. Bapak dengan keluh kesahnya bersandar pada kursi  yang mulai reyot. Tatapan matanya menerawang  membayangkan  hamparan padi yang menari gemulai oleh tiupan angin malam. Ia melihat  bulir-bulir padi yang masih belum bisa dipastikan hasilnya. Bapak lebih beruntung karena sawah tetangga musim tanam ini tak membuahkan hasil apa-apa. Serangan hama wereng dan keong mas membuat tanaman padi puso semua. Bapak sangat bersyukur kepada Tuhan karena hingga kini padi kami masih bisa memberikan harapan kehidupan ke depan.

Musim tanam tahun sebelumnya sawah Bapak tak menghasilkan apa-apa. Bapak terlambat mencegah serangan hama yang luar biasa. Bapak beserta petani yang lain hanya bisa gigit jari karena tak membuahkan hasil sama sekali. Gagal panen yang mereka alami menyebabkan program-program yang telah mereka buat gagal semuanya.

Rasa lelah dan kantuk tak kuasa Bapak tahan. Sekali menguap tubuh legam itu pun rebah lalu mendengkur di atas ranjang, Bapak  benar-nenar kelelahan.

Fajar muncul memerah jingga di ufuk timur. Ia mengawal terbitnya matahari untuk melaksanakan tugasnya menyinari jagad raya. Beriring siulan burung-burung pengantar pagi, Bapak segera berangkat ke sawah untuk memunguti keong mas yang menggerogoti batang tanaman padi. Dangau tua menanti Bapak menyinggahi dirinya yang lapuk. Bapak meletakkan barang bawaan dan bekal makan siangnya di atas dangau tua.

Hanya memakai celana pendek dan kaos lengan panjang yang sejak kemarin disangkutkan di paku dangau tua, Bapak segera turun ke sawah memunguti satu persatu keong mas yang masih menempel di batang tanaman padi. Dalam sekejap, Bapak sudah mendapatkan hama tanaman itu satu karung.

Napas terengah karena mangangkat beban sekarung dari sawah hingga dangau tua.  Bapak lalu meraih sebotol air minum putih. Dua, tiga teguk air mengalir melalui tenggorokannya yang kering. Sekejap energi yang sempat terkuras kini pulih kembali. Bapak pun turun lagi ke sawah mengambili keong emas yang masih banyak menempel di batang-batang tanaman padi.

“Paakk…! Bapaakkkk….!” Suaraku melantun keras dari kejauhan. Bapak menengok sebentar ke arahku. Namaku Yusni anak bungsu bapak yang baru saja tamat SMA.

“Kok, sendiri ? Emak mana” tanya  Bapak sambil menyeka peluh di wajahnya.

“Aku diterima kuliah di Universitas Negeri dan hari ini pembayaran terakhir.

Bapak tidak bisa berkutik mendengarkan penjelasan dari aku yang sebenarnya sudah diduganya. Aku termasuk siswa berprestasi disekolahku.

“Seminggu lagi bagaimana?” tanya Bapak. Sambil memikirkan cara mendapatkan uang dalam waktu singkat..

“Tidak tahu, Pak!” jawabku dengan muka murung.

“Nasib….nasib!” keluh Bapak.

“Sabar, Pak. Aku tidak apa-apa kok Pak kalau terpaksa tidak kuliah,”

“Tidak, Nak. Kamu harus tetap kuliah,” tegas Bapak.

“Tapi, Pak..!”

“Tak usah kau pikirkan itu semua. Itu urusan Bapak. Tugas kamu hanya belajar.”

Pekerjaan di sawah yang belum selesai terpaksa ditunda demi masa depanku. Bapak tidak mau hanya gara-gara belum bisa bayar, aku batal kuliah. Atas kebaikan Induk Semang, akhirnya Bapak bisa membayar biaya kuliahku. Bapak  bangga karena aku diterima  di universitas Negeri dan mendapatkan beasiswa. Bapak merasa lega karena aku bisa melanjutkan pendidikanku dan Bapak pun bisa bekerja lagi ke sawah.

Dangau tua yang setia menanti Bapak tetap berdiri walau diterpa angin kencang musim ini. Ia kangen kepada Bapak  karena dua hari tidak disambangi karena Bapak sibuk mengurusi pendidikanku. Dangau tua melambaikan atap jeraminya kepada Bapak yang tergopoh-gopoh mendekatinya. Dangau itu merasa bersyukur disinggahi orang seperti Bapak.

Bapak menyingsingkan lengan  kaosnya lalu turun ke sawah. Betapa kagetnya ketika Bapak melihat keong-keong itu melumat tanaman padi. Bapak melihat dengan perasaan sedih batang-batang padi yang bertumbangan di permukaan air sawah. Tangannya melemas seakan tak berdaya ketika memunguti batang-batang padi itu untuk dikumpulkan lalu di buang ke pematang dekat dangau tua.

Hamparan sawah Bapak yang asalnya hijau kini hanya terlihat hamparan air yang beriak diterpa tiupan angin. Di balik riak-riak kecil di permukaan air sawah itu terlukis wajah sedih Bapak. Bapak tak rela jika aku  yang sudah lulus SMA tak bisa melanjutkan kuliah. Bapak hanya pasrah menunggu nasib baik menghampiri sehingga perekonomian keluarga bangkit demi pendidikan dan masa depanku.

Bapak,,,

Seperti sinar mentari 

Kasih yang kau suguhkan 

Sungguh tak mampu aku membalasnya 

Aku sayang Bapak 

Sungguh kami menyayangimu,,,



Jangan Biarkan Ibu Berkata Terserah

Ibuku tidak tidur. Dia merasa lelah. Dia mudah tersinggung, pemarah, dan pahit. Dia selalu sakit sampai suatu hari, tiba-tiba di...