April 13, 2021

Marhaban Ya Ramadhan


Engkau telah datang. Engkau kembali hadir. Mengantarkan ribuan kebajikan. Membawa air mata miliaran insan. Dalam kekhusyuan.

Dalam dekapan amalan-amalan thayyiban. Kuambil sajadah, kuhantarkan doa-doa di antara siang dan malam. Meski aku malu dan aku sadar, kemarin aku lalai kepadaMu.

Marhaban Ya Ramadhan,,,
Marhaban Ya Ramadhan,,,
Terimalah aku kembali. Mengucap beribu syukur. Memohon beribu maaf atas khilaf dan alpa. Yang telah aku gores pada setiap langkah dan kata.

Untukmu hai Ramadhan,,,
Rangkul aku dalam hangat penghambaan. Ajari aku menghitung hari tanpa kesia-siaan. Dosa luruh sorotkan dzahir batin berbingkai ketaatan.

Awan menari menyambut bulan suci. Songsong 1000 bulan nan suci. Hati gembira ditakdirkan dapat bersua kembali. Hiasi hari dengan ibadah pahala tak terperi. Hingga hari nan fitri terengkuh kembali menjadi suci.


April 11, 2021

Lentera Cinta



Malam yang begitu dingin. Terpendam sebuah ingin. Yang mengkristal terbawa angin. Menetes lembut dipermukaan tanah kering.

Seperti lentera dalam gelap, menenangkan, mendamaikan. Tak perlu seterang matahari. Tak perlu seindah rembulan. Tak perlu sebanyak bintang. Karena yang kubutuhkan sedikit cahaya dari lentera cinta.

Agar aku,,,
Tak kesepian saat terjaga. Aku menyebutmu mimpi. Meskipun demikian, saatku terjaga semua itu nyata. Aku menyebutmu mimpi, namun kau adalah takdirku.

Cinta ini,,,
Tercipta dari hening. Dari kebisuan. Dan dari selaksa mimpi.

Ada seberkas cerita dalam gulita malam. Yang kita baca bersama. Dalam bait- bait penuh makna. Dan semua itu mengalir begitu indah. Bukan tanpa alasan,,,





Krim Awet Muda


Puluhan mata wanita tidak berkedip, saat Nunung mengoleskan krim  merah muda ke wajah wanita yang menurut penafsiranku berusia sekitar 60 tahun. Seketika itu, wajah wanita yang banyak kerutan di dahi dan sekitar mata berubah mulus. Alhasil, gemuruh tepuk tangan sambil berdiri langsung menggema di aula itu. 

"Kamu pasti ingin bisa terlihat awet muda kan ? Hal itu memang jadi dambaan kaum hawa, ya. Apalagi kalau sudah memasuki usia dewasa dimana kondisi kulit mulai mengalami perubahan seperti kulit terasa kendur atau adanya garis-garis halus yang berpotensi menjadi kerutan. Maka dari sekarang, kalian  bisa coba untuk rajin memakai Plastkrim. Nah,  ini adalah  krim wajah yang ternyata bisa bikin kamu awet muda!"

"New plastkrim ready,,Dengan membeli produk plastkrim senilai 500 ribu, kamu akan dapatkan pouch cantik untuk tempat kosmetikmu. Tunggu apa lagi, yuk, gercep untuk dapatkan pouch unik dan eksklusif untukmu.”
“Beli produk plastkrim yang satu ini, kamu nggak hanya bisa tambah menarik. Tapi, bisa juga tambah percaya diri". 

"Plastkrim di formulasikan khusus dengan bahan aktif yang dapat mencerahkan kulit wajah secara merata dengan pemakaian secara teratur kulit menjadi tampak lebih awet muda, bersih,cerah serta terasa halus dan lembut".

"Cara  penggunaannya sangat gampang, oleskan Plastkrim secara tipis dan merata pada kulit wajah yang telah di bersihkan , pada malam hari sebelum tidur"

Begitulah, Nunung sangat piawai mempromosikan krim kecantikan.

Plastkrim, nama krim yang diklaim Nunung sebagai penemunya setelah dua tahun mengadakan riset. Nunung adalah sahabat mayaku yang selama ini belum pernah bertemu. Ia meminta menginap di tempatku selama 4 hari untuk mempromosikan krim kecantikan.

Malam ini sambil menunggu Nunung  pulang, aku dikagetkan ketukan pintu bertubi- tubi. Ternyata Pak Iroen, pemilik warung sebelah rumah yang istrinya tiga hari lalu melahirkan. Dengan ekspresi cemas, ia memintaku menemani istrinya karena akan ke rumah Pak RT untuk melaporkan sesuatu.

Bu Lek Ambu terisak-isak sambil menggendong bayinya. 
"Sungguh terkutuk orang yang mencuri ari- Ari bayi ku!" katanya gusar.

Pikiranku langsung teringat kebiasaan masyarakat Jawa yang selalu mengubur ari-ari setelah bayi lahir dan meletakkan lampu ublik untuk menandainya. Seketika itu, aku menengok ke luar jendela. Ada tanah yang baru digali.

Pukul 23.30, aku memutuskan pulang, tetapi tidak langsung menuju ke kamar karena mendengar suara mencurigakan di kamarku. Dari balik jendela, aku mengintip Nunung meremas-remas benda seperti usus di wadah plastik. Lalu memasukkan ke blender. Begitu cekatan ia menambahkan bubuk putih dan cairan minyak wangi. Setelah itu memblendernya. Dengan hati- hati dimasukkannya adonan tersebut ke botol- botol kecil berlabel. Degh! aku baru sadar ternyata Plastkrim itu terbuat dari plasenta atau ari-ari.

April 10, 2021

Jenggala Syahdu


Kala burung bernyanyi menyambut pagi. Embun berkilau tersirat sang mentari.

Dalam geliat bingkai alam, pesona hembusan angin penuh kesejukan. Bunga ilalang bergoyang seakan menari memberi impian yang tinggi.

Daun melambai bersurai girang terjuntai. Mimpi-mimpi dalam dekapan rindu.

Dibawah air terjun, sekelompok anak katak berloncatan menari tarian hati.

Jenggala Sayhdu,,,
Hijaumu tarian esotik rimba. Gaung penghuninya memecah sukma. Belantara dambaan hamba

Disini,,,
Akan kita bangun rumah diatas pohon yang paling tinggi di jenggala ini.

Kita bisa melihat matahari tengelam dan bintang-bintang yang memandanggi kita sambil memuaikan segala rahasia.

Kita disini. Tanpa mengeluh. Jenggala ini semakin Syahdu.

April 09, 2021

IjabahMu Ya Rabb

Tidak bayak yang ingin di ungkapkan.
Terimakasih Ya Robb.
Untuk nikmat cobaan.
Untuk nikmat kesabaran.
Untuk nikmat setiap tetes air mata.
Untuk setiap amarah yang kadang tak terjaga.
Untuk setiap doa yang kadang ragu apakah diijabah.
Dan sekarang hanya untaian kata singkat.
Yang terasa di  hati dan raga.
Hanya ingin berucap.
Terimakasih Ya Robb.
Untuk nikmat kebahagiaan yang Kau beri sekarang.
Untuk nikmat rezeki yang kau berikan sekarang.
Terima kasih Engkau telah mudahkan segalanya.
Semoga  Engkau mudahkan segala urusanku.
Semoga nikmat ini tidak mebuatku alfa.
Sungguh aku bahagia Ya Robb.

April 08, 2021

Hidup Hibuk Hirup

Siang ini mentari engan menjalankan tugasnya, ia memilih bersembunyi dibalik awan putih mengintip kehibukan Desa Maya, menyaksikan kerumunan orang yang sedang mengantri demi menentukan sebuah keputusan besar. Iya,,,hari ini Desa Maya sedang berpesta,,Pesta menentukan siapa pemimpin mereka dimasa yang akan datang. Tentu nya memilih sosok pemimpin yang bisa membawa kehidupan desa Maya menjadi lebih baik.

“Sudah menentukan pilihan?” tanya Brian, seorang pemuda paling tampan di Desa Maya, yang sedang menunggu gilirannya mencoblos pada teman di depannya.

“Kau tahu mengapa aku memakai kemeja?” tanya pria yang rupanya setahun lebih muda itu alih-alih menjawab pertanyaan yang diajukan.

Brian mengangguk. “Karena jika kau masuk ke ruang rapat  dan memakai kaus, kau akan diusir dari ruang rapat ,” jawabnya.

“Itu salah satunya,” balas pemuda itu. “Alasan lainnya adalah agar aku bisa menghitung kancing ketika memilih nanti,” lanjutnya.

“Indra! Wah, kau belum berubah ternyata. Bagaimana kau bisa memberikan nasib Desamu pada kancing kemeja? Bukankah mereka sudah kampanye? Seharusnya kau bisa menentukan pilihan dari kegiatan itu,” kata Brian yang tidak habis pikir dengan jawaban Indra tadi.

Lelaki berkemeja itu lalu membalikkan badan, menghadap Brian sambil menepuk pundaknya.

“Kau tahu istilah dari topeng yang dipakai oleh aktor, Persona !. Bisa saja saat berkampanye kemarin mereka hanya membual, hanya menyampaikan hal-hal manis agar mendapatkan banyak pendukung. Jadi, aku tidak bisa memercayai kalimat mereka,” kata Indra. Ia lantas kembali menghadap ke depan dan maju ketika barisan di depannya juga mulai bergerak.

Brian juga mengikuti langkah Indra, maju satu langkah dan diikuti teman-teman lain di belakangnya.

 “Memang itu gunanya kampanye. Mereka melakukan persuasi agar bisa terpilih dalam pemilihan ini,” ujarnya.

“Sayangnya, aku tidak mudah terpengaruh oleh kalimat-kalimat ajakan itu. Aku lebih memercayai diriku, memercayai kancing kemejaku.” Indra menyatukan kedua tangannya di depan dada lalu mengusap kancing-kancing bajunya.

“Cepat maju! Sudah giliran kita untuk memilih,” balas Brian.

Indra membuka lembar berisi foto calon Kepala Desa. Jujur saja, ia tidak begitu familiar dengan  keempat wajah yang tertera itu. Apakah mereka benar-benar mumpuni atau sekadar mencalonkan diri, Indra tidak yakin. Harus ia berikan ke siapa tanggung jawab untuk mengemudikan kapal di desa  ini?

Diliriknya Brian yang terlihat sudah melipat kertasnya kembali tanda ia sudah memilih. 

Padahal, tadi ia tidak mau ambil pusing, cukup menghitung kancing saja. Tetapi, rasanya ia memiliki tanggung jawab untuk kebaikan Desanya. Untungnya, ia segera mendapatkan pencerahan. “Baiklah! Aku sudah menentukan pilihan,” batin Indra sambil tersenyum tipis sembari mencoblos gambar salah satu calon kades.

Pengumuman hasil pemilihan Kades muncul selang beberapa jam setelah pencoblosan selesai. Wajah  Kades  baru bermunculan di unggahan status media sosial para pendukungnya. Tak ketinggalan pula ucapan selamat atas terpilihnya pemimpin yang baru bermunculan.

“Wah, aku tidak menduga jika Pak Santo yang menang. Padahal, melihat masa kampanye kemarin pendukung dari Pak Cipto nomor urut dua terlihat sangat banyak. ” komentar Indra sambil melihat papan perhitungan suara.

“Aku sudah menduganya,” jawab Brian.

“Bagaimana bisa?” tanya Indra penasaran.

“Bagaimana calon nomor satu bisa menang? Apakah ini takdir?” tanya Indra lagi.

“Mungkin karena mereka yang nyoblos pakai metode menghitung kancing. Jumlah kancing baju itu rata-rata enam butir dan biasanya ada orang yang menambahkan satu hitungan lagi untuk pilihannya,” jawab Brian.

Indra lalu memeriksa kancing bajunya, dan benar ada enam kancing termasuk kancing paling atas.

“Apakah ini memang kebiasaan orang-orang, menghitung kancing dan menambah satu angka lagi?” Indra masih terlihat mengagumi pemikiran Brian.

“Tidak, itu hanya bualanku saja. Mana aku tahu mengapa ia bisa menang. Sudahlah, jangan dipikirkan, toh mereka sudah terpilih,” kata Brian sambil menghirup udara demokrasi di Desa Maya.




April 06, 2021

Ghibah


"Yusni, sini gabung!"

Lagi, tiga orang tetanggaku itu berkumpul di geladeri  rumah salah satu dari mereka. Sebut saja mereka Nunung, Ai, dan Pipit. Tak ada hal lain yang mereka bicarakan selain keburukan orang. Tak terkecuali diriku.

"Maaf Mbak, saya mau masak dulu," tolakku halus. Jika ada jalan lain menuju warung, aku tak sudi melewati rumah mereka. Setelah ini, pasti aku yang  jadi objek utama bahan gunjingan. Tak jarang kudengar mereka mengolok-olokku sebagai perempuan rumahan yang kerjanya cuma di dapur.

"Masak terus apa gak capek? Sesekali gabung biar gak kuper!" celetuk Nunung.

"Makasih, Mbak."

Aku mempercepat langkah. Telingaku panas lama-lama mendengar ocehan tiga makhluk itu. Lebih baik aku menyalurkan hobi di dapur.

Aku mulai menyiapkan bahan untuk membuat Dimsum udang. Semua bahan mulai dari kulit pangsit, udang, dan lainnya sudah tertata rapi. Aku melihat semua bahan, sepertinya ada yang kurang. Ah, sial ! Telurnya lupa terbeli.

Dengan terpaksa aku harus kembali ke warung dan melewati tiga wanita berdaster yang masih asik tertawa dan sesekali berbisik. Kali ini, entah siapa yang mereka bicarakan.

"Kok, balik lagi, Yus ?"

"Ada yang ketinggalan, Mbak."

Aku mempercepat langkah untuk menghindari pertanyaan susulan.

Setelah kembali dari warung, tak lama Nunung datang ke rumah.

"Masak apa, sih?" Tanpa kupersilakan masuk, wanita buntal itu langsung menuju dapur.

"Masak dimsum. Mbak mau bantu?"

Dia tampak berpikir sejenak, lalu melihat-lihat isi dapur tanpa menjawab pertanyaanku.


Sore hari, kuantarkan Dimsum itu kepada tetangga. Ai sikurus dan dan Pipit siJangkung lagi-lagi duduk di geladeri  seperti biasa.

"Wah, lebih enak dari yang waktu itu," puji Ai si Kurus.

"Nunung  mana, ya. Ada makanan enak gini, kok gak kelihatan dari tadi siang," celoteh Pipit dengan mulut penuh Dimsum.

Aku kembali ke rumah dengan senyum terkembang. Kubuka lemari es, udang yang kubeli tadi masih utuh.

Ya ! Mereka benar-benar menikmatinya. Aku tersenyum puas.

Jangan Biarkan Ibu Berkata Terserah

Ibuku tidak tidur. Dia merasa lelah. Dia mudah tersinggung, pemarah, dan pahit. Dia selalu sakit sampai suatu hari, tiba-tiba di...